Mengais rupiah dari sisa-sisa kejayaan rokok kretek

2019
05/21
14:01

威尼斯平台登录/ 国际/ Mengais rupiah dari sisa-sisa kejayaan rokok kretek

2017年11月22日上午10:41发布
更新时间:2017年11月22日上午10:42

Buruh rokok kretek saat melinting batang rokok di pabrik Sekar Tembakau Cepiring Kendal。 Foto oleh Fariz Fardianto / Rappler

Buruh rokok kretek saat melinting batang rokok di pabrik Sekar Tembakau Cepiring Kendal。 Foto oleh Fariz Fardianto / Rappler

SEMARANG,印度尼西亚 - Prastyawati beraktivitas seperti biasa pada Selasa 2017年11月21日.Sejak pagi,ia telah mengurus kebutuhan anak dan suaminya sebelum berangkat bekerja。

Tinggal di sebuah desa di Kecamatan Weleri,Kendal,perempuan bertubuh tambun ini cukup menempuh perjalanan 15 menit untuk sampai ke pabrik rokok kretek Sari Tembakau Harum yang berada di tepi jalan Cepiring。

Pras,demikian ia biasa disapa,sudah 10 tahun bekerja di situ。 Perjuangannya untuk mengumpulkan uang dari hasil melinting rokok terbilang tak mudah。

“Saya melinting rokok memakai mesin tenaga手册.Sehari bisa bekerja tujuh jam.Kalau dibilang capek ya pasti capek,tapi ini semua harus saya jalani untuk mencukupi kebutuhan hidup setiap hari,”katanya kepada Rappler。

Pras berada pada satu kelompok pekerja pelinting rokok yang beranggotakan 51 orang。 Saban hari,ia mampu melinting rokok sebanyak 62 ribu batang。 Untuk hari ini saja,dirinya mampu melinting 94 ribu batang rokok。

“Saya dapat upah Rp 62 ribu per hari.Sitik-sitik iso ngewangi bojo golek pangan,Mas,”kata ibu satu anak ini。

Walau begitu,ia tak memungkiri jika kondisi pabrik rokoknya tak sehebat dahulu。 Kini,ia selalu dihantui bayang-bayang pemutusan hubungan kerja(PHK)seiring merosotnya jumlah produksi rokok yang dihasilkan di pabrik Sari Tembakau。

Kekhawatirannya tersebut kian menjadi-jadi tatkala dirinya harus dihadapi pada kenyataan bahwa Kementerian Kesehatan terus berupaya membatasi penjualan rokok di pasaran。

“Meski ada kekhawatiran akan bangkrut.Tetapi Insyallah perusahaan tetap memperjuangkan hak-hak saya.Kepenginnya sih kita tetap dipakai(untuk bekerja).Kalau nganggur kan kasihan keluarga di rumah,”ungkapnya。

Ia pun kembali mengingat perjuangannya bekerja di pabrik Sari Tembakau。 Diakuinya jerih payahnya telah mampu mengangkat derajat keluarganya。

Ketika tahun 2010 silam,ia sedikit demi sedikit mengumpulkan penghasilan untuk membeli sepeda motor serta menyekolahkan seorang anaknya。

Lambat-laun penghasilannya bertambah seiring dengan lamanya masa kerja di pabrik rokok tersebut。

“Pas ada imbauan terkait pembatasan rokok saya sempat deg-degan.Lha wong saya tiap hari kerjanya nglinting rokok,mau makan apa nanti kalau lama-lama orang-orang enggak boleh jualan rokok lagi,”keluhnya。

Ketakutan serupa juga tampak di raut wajah Nur Yanti。 Padahal,pekerjaannya melinting rokok cukup untuk menopang kebutuhan rumah tanggannya。

“Saya sangat bersukur karena dengan memakai izasah SMP bisa masuk kerja,gajinya juga sesuai UMK sehingga bisa membantu keluarga apalagi saya jadi tulang punggung keluarga sejak kecil,”。

“Yang membuat saya takut itu karena ada kebijakan pemerintah yang memasang iklan-iklan rokok dengan gambar yang mengerikan.Jika cukai terus naik dan rokok disetop,keluarga saya mau makan apa,”katanya。

Ia berharap pemerintah supaya berlaku adil terhadap para petani tembakau di daerah。 Sebab,banyak kaum perempuan yang jadi tulang punggung keluarga dengan menggantungkan hidupnya dari hasil melinting rokok maupun menyemai tembakau。

Jumlah buruh rokok merosot

Sementara itu,pengelola pabrik Sari Tembakau Harum menyebut jumlah tenaga kerjanya terus berkurang yang sejalan dengan konsumsi rokok merosot beberapa tahun belakangan ini。

“Akibatnya,volume produksi kita ikut menurun,”kata pemilik pabrik Sari Tembakau Harum,Warik Sugriyanto。 Di lokasi pabriknya,Warik menyatakan jumlah tenaga kerjanya saat ini hanya ada ratusan orang yang bekerja jadi buruh harian dan golongan。 Buruh kategori golongan mayoritas diisi kaum hawa yang tinggal di sekitar Cepiring dan Weleri。

“Mereka tersebar di bagian pelintingan dan pemotongan,pengemasan,pengepakan dan pemasangan pita cukai,”sahut Joko Surono,经理手表pabrik Sari Tembakau。

Penurunan卷produksinya juga dipicu gaya hidup masyarakat杨berubah drastis。 Ia bilang kini ruang promosi rokok telah diperketat serta tempat konsumsi rokok yang semakin dibatasi。

Ketua Umum Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia(AMTI)Budidoyo Siswoyo mengakui jika industri sigaret rokok tangan(SKT)kini mulai meredup。 Sehingga kondisi ini membuat para buruh kehilangan pekerjaan。

Kondisi benar-benar memberatkan warga yang bekerja di pabrik rokok maupun para petani tembakau di sejumlah daerah,”terangnya。 ,“ujar Budidoyo。-Rappler.com

免责声明:本文来自威尼斯平台登录新闻客户端自媒体,不代表威尼斯平台登录的观点和立场。