Mabes Polri:Tas berisi senjata di Sudan terbukti bukan milik personel Indonesia

2019
05/21
11:02

威尼斯平台登录/ 国际/ Mabes Polri:Tas berisi senjata di Sudan terbukti bukan milik personel Indonesia

2017年2月13日下午8:37发布
2017年2月13日下午8:37更新

FPU印度尼西亚。 Anggota Satgas FPU Indonesia VIII memperagakan yel saat mengikuti upacara pemberangkatan di Rupatama Mabes Polri,雅加达,Kamis,2016年12月17日。摄影oleh Muhammad Adimaja / ANTARA

FPU印度尼西亚。 Anggota Satgas FPU Indonesia VIII memperagakan yel saat mengikuti upacara pemberangkatan di Rupatama Mabes Polri,雅加达,Kamis,2016年12月17日。摄影oleh Muhammad Adimaja / ANTARA

雅加达,印度尼西亚 - Mabes Polri memastikan tas berisi puluhan senjata dan amunisi yang ditemukan di Bandara El-Fasher,苏丹bukan milik personil kepolisian asal Indonesia。 Berdasarkan laporan tim bantuan hukum Polri di Sudan,tidak ditemukan bukti yang menguatkan jika senjata ilegal itu milik Satgas Garuda Bhayangkara yang tergabung dalam Formed Unit Police(FPU)VIII Perserikatan Bangsa-Bangsa。

Karopenmas Divisi Humas Polri,Brigjen Rikwanto mengungkapkan tim dari Korps Bhayangkara yang dipimpin oleh Johanis Asadoma telah melakukan pertemuan dengan beberapa pihak di Sudan。 Johanis juga membawa tim khusus untuk memberikan bantuan hukum bagi 139 anggota Satgas Garuda Bhayangkara。 Lantaran kasus ini,ratusan personil Polri yang semula dijadwalkan kembali ke Tanah Air tanggal 21 Januari menjadi tertahan。

“Jadi,lokasi titik masing-masing orang,koper,pintu masuk,pintu keluar,memang jauh dari kemungkinan bahwa tas itu memang milik FPU VIII,”ujar Rikwanto yang ditemui di Mabes Polri pada Senin,13 Februari。

Lalu,kapan mereka bisa pulang ke Tanah Air? Rikwanto mengaku belum bisa memastikan。 Hal itu tergantung kepada keputusan PBB melalui联合国非洲联盟代表团(达尔富尔混合行动)。 Tetapi,Polri mengupayakan agar 139 personil Polri bisa kembali ke印度尼西亚setelah tanggal 15 Februari。

“Beberapa pemeriksaan,penelitian masih dilakukan dan tinggal tunggu kesimpulan saja。 Informasi dari sana diperkirakan bisa dipulangkan setelah tanggal 15 Februari,“kata dia。

Investigasi masih terus jalan

Sementara,Menteri Luar Negeri Retno Marsudi tidak ingin gegabah menyampaikan informasi kepada publik。 Ketika dikonfirmasi soal kepemilikan 10 peti berisi senjata dan amunisi,Retno mengatakan semua masih dalam proses penyelidikan。

“Belum(diketahui pemilik senjata itu)。 Kan investigasinya masih berjalan。 Oleh sebab itu,kami menjunjung tinggi asas praduga tidak bersalah,“ujar Retno yang ditemui di Istana Negara pada Senin,13 Februari。

Untuk mempercepat proses investigasi,mantan Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda itu mengaku terus berkomunikasi secara intens dengan Menlu Sudan dan perwakilan Indonesia di New York serta Sudan。 Terakhir,komunikasi dijalin Retno dengan Menlu Sudan pada tanggal 9 Februari lalu。

“Saya sampaikan kembali bahwa saya sangat menghargai kerjasama yang diberikan Sudan untuk kasus ini,sehingga kasus ini betul-betul dapat dibuka secara transparan。 苏丹双关语setuju dan akan bekerja sama seoptimal mungkin dengan tim yang dikirim dari Indonesia,“kata dia。

Kejadian itu bermula,ketika 139 personil FPU VIII yang terdiri dari personil Polri hendak kembali ke Indonesia usai menunaikan tugas di Darfur。 Mereka sudah berada di Bandara El-Fasher untuk melakukan 办理入住手续

Tetapi,tidak jauh dari mereka ditemukan tas tanpa identitas。 Setelah diperiksa,isinya puluhan senjata dan amunisi。 Karena berlokasi dekat dari rombongan tim印度尼西亚,otoritas苏丹菜单tas tersebut milik kontingen Polri。 (BACA: )

Kontingen印度尼西亚sudah berulang kali membantah senjata itu milik mereka。 Namun,otoritas berwenang di Sudan melarang mereka meninggalkan bandara。

Menurut laporan media setempat, ,di dalam koper berisi 29 senjata kalashnikov,4 senapan,6 buah senjata jenis GM3,61 ragam pistol dan amunisi dalam jumlah besar。 - Rappler.com

免责声明:本文来自威尼斯平台登录新闻客户端自媒体,不代表威尼斯平台登录的观点和立场。